Melongok ke Sumur Maut di Lubang Buaya


Sabtu, 9 Januari 2015 lalu, saya dan Rian berkunjung ke Sumur Maut di kawasan Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya berkunjung ke Sumur Maut. Sewaktu SD, saya sudah beberapa kali ke tempat ini dalam rangka study tour. Belum lagi bila mengikuti giliran kakak dan adik saya study tour. Tempat ini sepertinya sering masuk daftar tempat bersejarah wajib kunjung ketika study tour.


Buat yang masih sepantaran sama saya, pasti nggak asing dengan tempat yang erat kaitannya dengan peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September / PKI ini. Peristiwa yang jelas sulit dilupa karena dulu TVRI rutin memutar film dokumenternya setiap akhir September (tiba-tiba saya merasa tua). Saya lupa tahun berapa tepatnya film itu berhenti diputarkan. Kalau ada yang ketinggalan menonton, bisa dicari di YouTube, tapi mungkin adegan-adegan dengan unsur kekerasannya sudah dipotong.

Kalau belum tahu, peristiwa pemberontakan G 30 S / PKI merupakan peristiwa ketika tujuh perwira TNI AD diculik dan dibunuh oleh G 30 S / PKI. Dini hari 1 Oktober 1965 tujuh perwira ini dibawa ke Desa Lubang Buaya, Jakarta Timur. Tiga perwira di antaranya dibunuh di kediaman masing-masing. Ketiga perwira ini adalah Letnan Jenderal (Letjen) Ahmad Yani Nasution, Mayor Jenderal (Mayjen) M.T. Harjono, dan Brigadir Jenderal (Brigjen) D.I. Pandjaitan. Sedangkan, empat perwira lainnya diculik dan dibawa dalam keadaan hidup dengan kondisi mata ditutup kain berwarna merah. Empat perwira ini disiksa dan dibunuh secara kejam di dalam sebuah rumah. Keempat perwira ini adalah Mayjen R. Soeprapto, Mayjen S. Parman, Brigjen Soetojo S., dan Letnan Satu (Lettu) Pierre Andreas Tendean yang menurut saya gantengnya bukan main :p


Melongok ke Sumur Maut rasanya belum lengkap bila belum mengetahui sejarahnya terlebih dahulu. Sebelumnya, kita bisa mengunjungi Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) terlebih dahulu. Memasuki tempat ini, kita akan diminta untuk membayar tiket masuk di pintu gerbang.

Waktu itu kami dikenakan Rp10.000 untuk masuk berdua menggunakan motor. Tiket masuk ini sudah termasuk biaya mengunjungi Museum Pengkhianatan PKI dan Sumur Maut. Belakangan, saya baru perhatikan kalau sebenarnya di tiket tertera tulisan Rp2.500 per orang dan Rp1.000 untuk motor. Saya kurang paham dari mana totalnya bisa menjadi Rp10.000. Memang sih, kami juga dapat stiker. Anggap saja sisanya untuk membayar stiker.

Menurut saya, museum ini sudah mengalami perkembangan jauh dari sewaktu terakhir saya ke sini. Ruangannya sudah terasa lebih bersih, terang, dan dingin.

Di museum ini terdapat banyak sekali diorama. Ada yang berupa boneka-boneka kecil dan ada juga yang berupa patung sebesar manusia. Saya lupa apakah sewaktu terakhir kali ke sini ada yang berbeda dari diorama-diorama tersebut. Namun, sewaktu kami ke sana, diorama-diorama ini disertakan penjelasan dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Inggris.




Menurut saya, bagian paling menarik dari museum ini adalah Ruang Pakaian dan Bekas Darah. Di ruangan ini, kita dapat melihat benda-benda dan pakaian yang masih dipakai oleh ketujuh Pahlawan Revolusi ketika dibunuh. Pakaian-pakaian ini masih dibiarkan berlumur darah yang sekarang sudah mengering.




Sebenarnya, selain Ruang Pakaian dan Bekas Darah, museum ini juga memiliki Ruang Pameran Foto Dokumenter, Ruang Teater: Pemutaran Film G 30 S /PKI, dan Ruang Dokumentasi dan Perpustakaan. Saya kurang tahu apakah biasanya ruangan-ruangan ini dibuka untuk umum. Tetapi, saat kami datang, ruangan-ruangan ini dalam keadaan dikunci.



Setelah Museum Pengkhianatan PKI, kita bisa menuju ke tempat Sumur Maut berada. Tempat ini berada di seberang museum, ditandai dengan gerbang bertuliskan ‘Monumen Pancasila Sakti’. Dari gerbang ini, nanti akan terlihat lapangan yang cukup besar.



Berjalan terus ke belakang, kita akan bertemu tangga yang di samping kiri dan kanannya terdapat tulisan isi Pantjasila dan Sapta Marga. Setelah menaiki tangga, di sebelah kiri terdapat Serambi Penyiksaan. Serambi ini digunakan oleh pemberontak G 30 S / PKI sebagai tempat menawan dan menyiksa Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal Suprapto, Brigadir Jenderal Sutoyo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean pada 1 Oktober 1965 silam.


Di samping Serambi Penyiksaan, terdapat Rumah Penyiksaan. Rumah ini berisi diorama berupa patung sebesar manusia. Kita bisa mengintip diorama ini, tetapi nggak dibolehkan untuk masuk ke dalam. Diorama ini kabarnya dibuat berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) peristiwa pemberontakan G 30 S / PKI.





Nggak jauh dari Rumah Penyiksaan, terdapat Sumur Maut. Sumur tua sedalam 12 meter dan berdiameter 75 cm ini dipakai untuk mengubur ketujuh Pahlawan Revolusi pada 1 Oktober 1965. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari museum, semua jenazah diseret dan dimasukkan dengan posisi kepala di bawah. Jenazah Mayjen R. Soeprapto diikat menjadi satu dengan jenazah Mayjen S. Parman. Setelah semua jenazah dimasukkan ke dalam sumur, mereka juga ditembaki secara beruntun. Barulah sumur ditimbun dengan tanah dan sampah untuk menghilangkan jejak.







Di belakang Sumur Maut, terdapat Monumen Pancasila Sakti. Ketujuh patung Pahlawan Revolusi dapat terlihat berdiri di sana. Lalu, di bawah ketujuh patung ini terdapat relief. Nggak asal dipahat, relief ini memperlihatkan sejarah Indonesia pada masa itu. Dari kiri ke kanan terdapat cerita mengenai pemberontakan PKI 1948 di Madiun, Soekarno dengan konsep Nasionalis, Agama, dan Komunis (NASAKOM)-nya, Soekarno dengan Surat Perintah 11 Maret 1966, gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan Presiden Soeharto.







Selain Monumen Pancasila Sakti, juga terdapat Pos Komando. 1 Oktober 1965 silam, rumah ini digunakan sebagai pos komando untuk pasukan G 30 S / PKI yang mengemban tugas menculik para Pahlawan Revolusi. Berbeda dengan Rumah Penyiksaan, kita dapat memasuki Pos Komando. Di dalamnya terdapat koleksi dari sebelum dan sesudah peristiwa pemberontakan. Koleksi benda-benda ini beberapa di antaranya merupakan benda asli dan sisanya merupakan replika.


Nggak ketinggalan, juga terdapat Dapur Umum. 1 Oktober 1965 silam, rumah ini digunakan sebagai dapur umum untuk anggota pasukan pemberontak G 30 S / PKI.

Photos by Riansa Putra

5 comments: